Kajian ini disusun untuk mendukung upaya pengendalian inflasi daerah melalui pemetaan kondisi pasokan, distribusi, dan rantai pasok komoditas pangan strategis penyumbang inflasi di Provinsi Aceh. Berdasarkan analisis Neraca Bahan Makanan dan rantai pasok terhadap 12 komoditas utama, kajian menemukan terdapat 9 komoditas yakni padi/beras, cabai besar, cabai rawit, tomat, sapi pedaging , ikan tongkol, ikan dencis, cumi-cumi, dan udang berada dalam kondisi surplus. Sedangkan 3 komoditas lainnya yakni bawang merah, ayam ras pedaging, dan telur ayam ras berada dalam kondisi minus. Sementara berdasarkan kabupaten/kota, kondisi pasokan setiap komoditas dapat berbeda dengan kondisi umum provinsi.
Pendalaman Komoditas Telur Ayam Ras dalam Kerangka Neraca Pangan dan Rantai Pasok Provinsi Aceh.
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian strategis dalam kajian ini adalah telur ayam ras, mengingat seluruh kabupaten/kota di Provinsi Aceh tercatat mengalami defisit produksi. Berdasarkan hasil Neraca Bahan Makanan, kebutuhan telur ayam ras di Aceh sebagian besar dipenuhi melalui pasokan antarwilayah, terutama dari Provinsi Jawa Timur dan Sumatera Utara, sehingga menjadikan komoditas ini sangat rentan terhadap gangguan distribusi, kenaikan biaya logistik, dan fluktuasi harga di daerah asal pasokan.
Dari sisi rantai pasok, distribusi telur ayam ras di Aceh melibatkan jalur yang relatif panjang, dimulai dari produsen luar daerah, agen wilayah produksi, pedagang pengumpul, pedagang grosir, hingga pedagang eceran. Struktur rantai pasok tersebut berdampak pada tingginya margin perdagangan dan biaya pengangkutan, yang pada akhirnya mendorong volatilitas harga di tingkat konsumen. Ketergantungan terhadap pasokan luar daerah juga menyebabkan terbatasnya ruang intervensi kebijakan di sisi hulu produksi lokal.
Kajian ini merekomendasikan penguatan pasokan telur ayam ras berbasis pengembangan produksi lokal, melalui peningkatan akses pembiayaan bagi peternak, penciptaan pola kemitraan usaha yang berkelanjutan, serta pendampingan teknis budidaya petelur secara intensif. Selain itu, penguatan kelembagaan peternak dan efisiensi distribusi antarwilayah menjadi kunci untuk memotong rantai pasok yang panjang dan menekan biaya logistik.
