Kajian Peningkatan Daya Saing Ekspor Kalimantan Timur
Kinerja neraca perdagangan Kalimantan Timur selama ini masih didominasi oleh ekspor batu bara dengan pangsa sekitar 89%. Ketergantungan yang tinggi pada komoditas tidak terbarukan ini menjadikan perekonomian Kaltim rentan terhadap gejolak harga dunia dan kebijakan negara mitra dagang utama, sebagaimana terbukti pada periode 2015–2016 ketika kontraksi ekspor menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun signifikan. Sejalan dengan visi pembangunan ekonomi Kaltim 2030 yang menargetkan transformasi dari sumber daya tak terbarukan menuju sumber daya terbarukan, diperlukan diversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi melalui penguatan komoditas non-pertambangan. Salah satu potensi utama yang diidentifikasi dalam kajian ini adalah pengembangan ekspor udang beku.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komoditas unggulan non-pertambangan yaitu udang beku di Kaltim, menganalisis daya saing serta faktor penghambatnya, menilai dampak ekonomi dari perbaikan daya saing, dan pada akhirnya menyusun roadmap peningkatan ekspor yang berkelanjutan.
Ruang lingkup penelitian meliputi pengumpulan data primer melalui survei dan wawancara dengan pemangku kepentingan, serta pengumpulan data sekunder dari statistik dan kajian terdahulu. Analisis pengukuran daya saing dilakukan melalui dua bagian utama. Pertama, Analisis Komoditi Unggulan yang meliputi: (1) RCA & Import Growth, (2) Intensive & Extensive Margin, (3) Product Staging, (4) Analisis KPJU Unggulan, (5) Export Growth & Market Share, (6) Firm Participation Rate/Survival, serta (7) Quality Margin. Kedua, Analisis Daya Saing Ekspor yang terdiri dari: (1) Akses Pasar, (2) Insentif Makro, (3) Kondisi Faktor Produksi, dan (4) Infrastruktur Promosi Perdagangan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa peluang ekspor udang beku Kaltim cukup baik di pasar utama seperti Jepang dan Amerika Serikat. Udang windu memiliki keunggulan dari sisi kesesuaian lingkungan untuk budidaya, nilai ekonomis yang tinggi, dan kualitas hasil budidaya tradisional. Namun demikian, terdapat tiga hambatan utama yang membatasi daya saing udang beku Kaltim, yaitu faktor produksi yang masih tradisional dengan produktivitas rendah dan kendala lahan tambak, terbatasnya akses pasar internasional yang hanya terfokus pada Jepang dan AS, serta belum adanya penerapan sertifikasi internasional (BAP dan ASC) yang menjadi prasyarat penting di pasar global.
Berdasarkan temuan tersebut, kajian merekomendasikan tiga strategi utama:
Ketiga strategi ini dituangkan dalam roadmap lima tahun yang diharapkan dapat menjadi pedoman bagi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan pelaku usaha. Dengan implementasi yang konsisten, udang beku berpotensi berkembang sebagai komoditas unggulan non-pertambangan Kaltim yang mampu meningkatkan daya saing ekspor, mendukung transformasi ekonomi daerah, dan memperkuat ketahanan perekonomian jangka panjang.
Bagikan: