Kajian Neraca dan Alur Distribusi Komoditas Pangan Strategis Wilayah Sekarkijang
Kajian ini bertujuan menyusun Neraca Bahan Makanan (NBM) dan memetakan alur distribusi komoditas pangan strategis di wilayah Sekarkijang (Kabupaten Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, dan Lumajang) sebagai dasar penguatan pengendalian inflasi pangan daerah. Fokus kajian diarahkan pada 10 komoditas strategis yang memiliki bobot dan volatilitas harga tinggi terhadap inflasi.
Metodologi
Kajian menggunakan pendekatan Neraca Bahan Makanan (NBM) mengacu pada pedoman Kementerian Pertanian, yang mencakup komponen produksi, perubahan stok, perdagangan antarwilayah, penggunaan, dan ketersediaan per kapita. Analisis rantai pasok dilakukan secara deskriptif supply chain dengan kerangka Food Supply Chain Network (FSCN) untuk mengidentifikasi struktur pelaku, proses bisnis, serta pola distribusi komoditas dari produsen hingga konsumen. Data bersumber dari instansi daerah, pelaku usaha, dan data sekunder resmi (BPS dan literatur terkait).
Hasil Utama
Hasil kajian menunjukkan bahwa beras merupakan komoditas dengan andil inflasi terbesar, disusul ayam ras pedaging, minyak goreng, dan telur ayam ras. Secara umum, komoditas berbasis produksi lokal seperti beras, cabai, ayam ras pedaging, daging sapi, dan gula pasir berada dalam kondisi neraca surplus, meskipun pada beberapa kabupaten tertentu masih terjadi defisit akibat tingginya kebutuhan.
Sebaliknya, bawang putih dan minyak goreng cenderung berada pada posisi neraca minus karena ketergantungan pasokan dari luar wilayah.
Pola distribusi menunjukkan bahwa surplus produksi di satu kabupaten tidak selalu menjamin pemenuhan kebutuhan lokal karena adanya mekanisme pasar dan alokasi pemasaran lintas daerah. Rantai distribusi terpanjang umumnya terjadi pada komoditas hortikultura (cabai dan bawang merah), sedangkan jalur terpendek ditemui pada komoditas industri dan impor. Temuan juga menegaskan bahwa antar kabupaten di wilayah Sekarkijang saling melengkapi pasokan, dengan pasar induk berperan sebagai simpul distribusi utama.
Rekomendasi Kebijakan
Berdasarkan temuan tersebut, kajian merekomendasikan:
Bagikan: